[HITMAN : SIDE MISSION]
Ide : Muchii Penulis : Yumie
BAB 1
Norilsk, sebuah kota di jantung Rusia paling utara. Orang-orang menjulukinya sebagai kota kelam, tempat di mana kabut pekat menari abadi di malam panjang tanpa siang, seolah menyembunyikan rahasia yang tak ingin terungkap. Suasana di sana dingin dan mencekam, seperti kota mati yang perlahan-lahan terlupakan. di balik jalanan kosong yang membisu, terukir kisah tentang tiga sosok bayangan. Pembunuh bayaran yang hidup di antara denting peluru dan perintah bisu, mengabdikan diri pada organisasi misterius yang dikenal dengan nama: The Shadow Hand.
Shean Ed Si leader muda, 29, dengan tubuh tegap, tinggi menjulang. Tatapan hunter eyes miliknya bukan sekadar pandangan biasa, sorot tajam dari mata merah menyala itu seperti predator yang siap menerkam siapa pun yang mengusik ketenangannya. Wajahnya dipahat tegas, rahangnya kokoh dan dingin, menambah kesan bahwa hidup telah mengajarinya lebih banyak hal dibanding usianya yang masih belia. Dalam tim, ia bagaikan bayangan yang selalu berada satu langkah di depan; tenang, cepat, dan cekat namun tetap selalu berpikir logis sebelum bertindak.
Olga Irina Volkova Cantik, licik, dan tengil. Olga tak pernah kesulitan menarik perhatian, baik di bar, jalanan, atau di tengah medan misi. Membuatnya tak perlu diragukan lagi diposisinya yang sebagai front line. Mata lilac-nya yang berkilau menyimpan tatapan nakal, seakan selalu punya rahasia kecil yang enggan ia bagikan. Rambut dengan warna senada menari di setiap langkahnya, memancarkan pesona liar wanita berusia 34 tahun yang gemar bergonta-ganti pasangan. Baginya, hidup adalah panggung, dan ia tahu betul cara menjadi bintang di atasnya.
Mikhael Kristoffer Sørensen Ia adalah pria dewasa yang enggan melepaskan jiwa kekanakan-nya. Di balik usianya yang sudah menginjak 36 tahun, Mikhael lebih sering menaburkan canda ketimbang amarah. Rambut merahnya seperti api yang selalu membara, sepasang mata hijaunya, hidup dan tajam, tersembunyi di balik kacamata tebal yang tak pernah lepas dari wajahnya. Saksi bisu dari ribuan jam yang telah ia habiskan di depan layar. Mikhael bukan sekadar peretas. Ia adalah detektif dalam bayang, pencari celah dalam sistem yang dikira rapat, pemburu rahasia dalam jaringan tanpa wajah. kesetiaan yang tak pernah ragu menjadikannya sebuah alasan mengapa ia selalu menjadi bagian tak tergantikan dalam setiap misi.
12 tahun bersama, membuat mereka bukan lagi sekadar tim. Mereka adalah senjata berjiwa, presisi yang dibalut loyalitas. Dalam setiap keberhasilan, dalam setiap penyelesaian misi nyaris sempurna, nama mereka terpatri jelas di mata Sergei, si pria dingin yang jarang menunjukkan rasa puas, selalu menaruh pandangan berbeda pada tim ini. Di balik semua tim yang ia miliki, nama mereka selalu menjadi favorit di hatinya.
___________________________________________________
CHAPTER 1 : AWAL DARI SEGALANYA
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah turut menyambut misi gelap yang telah menanti. Di bawah langit yang muram, mereka melangkah dalam diam, menyatu dengan bayang-bayang malam. Target mereka adalah Ethan, seorang mantan agen yang pernah bekerja dibawah naungan Sergei, ia telah lama menghilang dari radar organisasi. Namun, sikap membelotnya dianggap sebagai sebuah ancaman bagi organisasi. Ethan yang telah lama pensiun dari dunia kelam itu membuat kewaspadaan-nya melemah, ia terlalu lengah dengan kehidupan tenang yang telah ia bangun dengan susah payah. Yang justru menjadi celah bagi mimpi buruk yang akan segera menyelimutinya.
Dengan keahlian yang telah terasah selama bertahun-tahun, mereka menyusup ke kediamannya tanpa meninggalkan jejak. Tiada alarm berbunyi, tiada anjing penjaga yang menggonggong. Sunyi, terlalu sunyi. Saat Ethan menyadari kehadiran mereka, segalanya sudah terlambat. Sekejap, malam menelan namanya dalam senyap. Misi pun selesai dengan cepat, bersih, dan nyaris tanpa perlawanan.
Namun, saat mereka hendak meninggalkan tempat itu, Olga mendengar suara tangisan kecil.
“Jangan bilang ada saksi mata?!” Mikhael mengernyit.
Mereka mengikuti suara itu hingga sampai ke sebuah kamar kecil. Pintu kayunya terbuka sedikit, cukup untuk memperlihatkan isi ruangan yang sederhana. Di sudut, ada sebuah boks kayu yang terlihat usang, dengan nama yang terukir jelas di sisi depannya, Leviandra.
Tak salah lagi. Itu pasti anak Ethan.
Seorang bayi laki-laki, berkisar berusia enam bulan, terbaring lemah di dalamnya. Tubuh mungil itu tampak lelah, seperti sudah terlalu lama menangis sampai kehabisan tenaga. Tatapannya kosong, namun mata birunya yang jernih menatap mereka dengan polos tanpa rasa takut, seolah belum mengerti apa-apa tentang dunia yang sedang terjadi di sekitarnya.
Mereka terdiam. Sulit membayangkan Ethan yang dulu hidup di dunia penuh kekerasan, memilih membangun keluarga kecil yang tersembunyi dari semua orang.
Shean, tanpa rasa belas kasih, dengan kejam langsung berkata, “Kita habisi saja sekalian. Tidak ada yang boleh tertinggal.”
Olga langsung menggendong bayi itu dan menatap Shean dengan tatapan mengancam. “Kau gila?! Ini cuma bayi!”
“Bayi yang bisa tumbuh besar dan membalaskan dendam,” balas Shean santai.
Mikhael, yang biasanya selalu sepaham dan mengikuti apapun keputusan Shean tanpa banyak bicara, kali ini justru angkat suara, membela Olga.
“Kita sudah menghabisi ayahnya. Tidak ada gunanya membunuh anak ini.” tegasnya, meski ada sedikit keraguan yang tertahan.
Shean mendesah panjang dan mengusap wajahnya kasar. “Kita pembunuh, bukan pengasuh!” ketusnya dengan nada suara penuh penekanan.
Namun Olga dan Mikhael sudah bertekad. Mereka membawa bayi itu keluar dari rumah itu dan memutuskan membawanya ke markas rahasia mereka. Shean hanya bisa menatap punggung keduanya dengan rasa jengkel yang sulit disembunyikan. Ia tahu ini bukan keputusan yang mudah dan jelas bukan keputusan yang benar menurutnya. Tapi malam sudah terlalu panjang, dan tubuhnya, pun terlalu lelah untuk berdebat lebih lama.
Dengan berat hati, ia akhirnya mengikuti mereka keluar. Dari belakang, langkahnya berat, pikirannya kacau dan berkecamuk. Meski hatinya menolak keras, pada akhirnya ia memilih ikut setuju, dengan rasa enggan yang sulit untuk disembunyikan.